Kontemplasi

Catatan Pikir #5 Komentar

“Gaya bener dah, pamer motor baru cuma ke masjid doang.”

“Itu anaknya kurus amat, ga dikasih makan apa?”

“Udah usia segitu kok masih belum nikah aja?”

“Pamer, posting foto berdua terus.”

Mungkin kita adalah orang-orang yang mengucapkan komentar-komentar di atas, atau yang senada. Kita senang sekali mengomentari kehidupan orang lain, entah kebaikan atau keburukan, prestasi atau musibah, bahkan hal yang dikenakannya saja harus kita komentari.

Komentar-komentar tersebut tak jarang kita sampaikan langsung, walau lebih sering mungkin di kolom komentar sosial media orang lain. Apalagi jika orang tersebut adalah sosok terkenal, maka seakan sebiah kewajiban untuk memberikan komentar kehidupan mereka.

Mengapa kita harus mengomentari kehidupan orang lain?

Ada beberapa alasan kenapa seseorang mengomentari hidup orang lain. Pertama karena merasa lebih baik dari orang tersebut. Ia merasa bahwa hidupnya jauh lebih baik, yang dilakukannya lebih benar dari orang yang dikomentarinya. Penyebab kedua seseorang berkomentar atas hidup orang lain adalah karena iri. Ia iri atas pencapaian dalam kehidupan orang lain, sehingga ia perlu berkomentar (yang cenderung pedas) untuk memuaskan ego dan menutupi rasa iri tersebut.

Apa iya kita lebih baik dari orang lain? Apakah kita tahu orang tersebut sampai ke hal-hal terdalamnya, sehingga berani berasumsi lebih baik darinya? Hanya Tuhan yang berhak menilai apakah seseorang lebih baik dari orang lain, manusia tidak berhak menghakimi.

Iri akan pencapaian orang lain? Setiap orang memiliki rezeki masing-masing, dalam bentuk yang berbeda-beda. Ada yang belum dikaruniai anak, tapi diberikan kelebihan harta, dan ada yang sebaliknya. Bersyukurlah atas pencapaian hidup kita masing-masing. Bersyukur akan membuat hati lebih lapang, sehingga tidak timbul rasa iri melihat pencapaian orang lain.

Tahanlah diri dari memberi komentar atas hidup orang lain. Kita tidak tahu kapan komentar kita akan menyakiti hati orang lain. Bukankah kita juga tidak senang jika hidup kita dikomentari oleh orang lain?

Jika ingin berkomentar karena peduli, maka kita tidak akan melakukannya di ruang publik. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengirimkan pesan personal, seperti: “Kawan, aku lihat berat badanmu sepertinya menurun drastis. Apakah engkau baik-baik saja? Apakah ada hal yang bisa aku bantu sebagai sahabatmu?”

Pesan yang baik akan memberikan efek yang baik, karena menunjukkan rasa peduli. Bandungkan jika kita berkomentar di sosial medianya, “Kok kurusan bro? Stress ya?” Tidak ada seorang pun yang akan senang menerima komentar seperti itu.

Berkatalah yang baik, atau diam.

Think before you speak, think before you tweet, think before you comment on something.

Letakkan lidahmu di belakang akal, jangan letakkan akalmu di belakang lidah.

2 thoughts on “Catatan Pikir #5 Komentar

  1. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan dimasa sekarang mebgomentari semua kehidupan orang lain, merasa paling pintar, bahkan terkadang semua yang dilakukan seseorang itu salah. Seolah-olah kepengen hidup bahagia tapi tidak mau meilah orang lain bahagia.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s