Humaniora

Mengumpat

Mengapa banyak orang senang mengumpat dan berkata kasar? Mengapa orang-orang dengan gampang berkata “Anjing”, “Bangsat”, dan kata-kata umpatan lainnya, bahkan di tempat-tempat publik seperti media sosial? Mengapa orang ketika marah harus mengumpat dan berkata kasar?

Mungkin saja, ada beberapa alasan mengapa seseorang senang berkata kasar dan mengumpat.

Pertama, mengumpat dan berkata kasar mungkin menjadi katarsis atau pelampiasan emosi seseorang ketika sedang marah. Bukankah seseorang yang marah memiliki kecenderungan untuk menyakiti orang lain? Mengumpat dan berkata kasar menjadi salah satu cara menyakiti orang lain, karena umpatan dan kata-kata kasar terkesan merendahkan dan tidak menghormati orang lain.

Kedua, mengumpat dan berkata kasar, walau tidak dalam kondisi marah, sebagai tanda dominasi sebagai alpha dan superior dibandingkan lawan bicaranya. Bukankah kita tidak akan berkata kasar, malah berkata-kata dengan sopan, kepada orang yang lebih tua, disegani, dan hormati. Namun, kita akan mudah berkata kasar, merendahkan, dan mengumpat orang-orang yang secara level setara atau lebih rendah dari kita.

Indonesia adalah negara yang memiliki watak dan budi yang halus, lembut, serta penuh kesopanan. Budaya ketimuran menunjukkan bahwa watak dan budi luhur ditunjukkan dengan pemakaian bahasa yang baik dan sopan. Bahasa dan sopan santun menunjukkan cerminan pribadi seseorang.

Cara kita berbahasa akan menunjukkan bagaimana kelak kita akan dikenang. Bahasa yang kita pakai sehari-hari akan menunjukkan bagaimana anak-anak kita kelak akan tumbuh. Jika kamu tidak masalah seandainya anakmu kelak terbiasa mengumpat dan berkata kasar kepadamu, ya silahkan. Tetapi aku tidak ingin anakku terbiasa mengumpat, berkata kasar, dan sebisa mungkin tidak bergaul dengan anak-anak yang berkata seperti itu.

Pergaulan anak memiliki peran cukup penting dalam pembentukan pribadinya. Maka kita sebagai orang tua harus berperan penting membentengi dari awal anak-anak kita dengan nilai-nilai luhur yang sesuai budaya ketimuran dan norma agama yang kita anut.

Sudah waktunya kelak nanti di seratus tahun Indonesia diisi oleh generasi-generasi emas yang berprestasi serta berbudi luhur dan berakhlak mulia. Tidak ada hal baik yang akan terjadi jika generasi selanjutnya diisi oleh anak-anak yang terbiasa berkata kasar dan mengumpat, karena menunjukkan kekasaran jiwanya.

2 thoughts on “Mengumpat

  1. Setuju. Saya hidup bersama kakak dan adik saya, meskipun saya dan kaka saya bertengkar, sebisa mungkin kami tidak saling mengumpat apalagi di depan anak kecil huhuT^T kadang mereka suka ngikut-ngikut tanpa tau maknanya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s