Kontemplasi

PERLUKAH NGOMONG ANJAY

Beberapa waktu ke belakang, jagad dunia maya dihebohkan dengan aduan seorang selebritas kepada Komnas Perlindungan Anak untuk melarang penggunaan kata anjay, bahkan bisa sampai dipidanakan. Hal ini mengundang berbagai reaksi, pro dan kontra—sepertinya kebanyakan kontra, setidaknya yang diberitakan media.

Terlepas dari itu, yang ingin aku sorot adalah, perlukah kita ngomong anjay? Dari mana kata anjay berasal? Asal katanya adalah “anjing”. Di beberapa daerah, khususnya Jakarta dan Bandung, kata “anjing” lazim dipakai dalam percakapan, entah sebagai kata hubung, awal kalimat, ungkapan kekaguman, atau kekesalan. Tentu saja, pemakaian “anjing” sebagai umpatan sudah cukup lumrah. Mungkin kalau boleh disejajarkan, dengan pemakaian kata “cuk” di Surabaya. Contohnya “Anjing, kemaren gue naik gunung, capek banget, anjing. Jalannya nanjak banget, anjing, sampai napas gue habis, anjing.” CMIIW.

Karena pemakaian “anjing” dianggap kasar, maka untuk menghindari penghakiman orang lain, maka digantilah “anjing” dengan anying, anjir, anjis, lalu berakhir dengan anjay.

Menurutku, orang-orang pemakai kata itu, adalah pengecut yang ingin mengumpat tapi takut akan penghakiman orang lain, makanya “melembutkan” dengan memakai kata tersebut.

Aku tidak akan membahas perlunya pelarangan pemakaian kata anjay, bahkan sampai dipidana, biarlah jadi urusan orang-orang hebat di sana. Pembahasanku adalah, apa perlu kita memakai kata anjay dalam percakapan sehari-hari?

Menurutku, tergantung kompas moral kalian. Kompas moralku yang sekarang menyatakan bahwa bicara itu harus yang baik dengan cara dan kata yang baik. Terlebih sejak memiliki anak, kata-kata dan bercandaan yang keluar harus diperhatikan. Aku percaya bahwa menjadi orang tua adalah menjadi teladan. Jika kamu tidak ingin anak-anakmu berkata kasar, maka kamu juga jangan mencontohkan hal tersebut. Salah satu parameter yang kupakai adalah, “Jika kamu tidak menggunakan kata tersebut kepada orang tua, maka itu berarti bukan kata yang layak kamu contohkan ke anakmu.”

Menjadi orang tua mengubah cara pandang dalam banyak hal. Salah satunya adalah tentang bagaimana berbicara dan bersikap. Menjadi orang tua mengajarkan kesabaran, pengorbanan, dan keteladanan. Caraku berbicara menjadi lebih terkendali dan lebih halus.

Maka bagiku, tidak perlu memakai kata anjay, anjir, anjis, anying, bahkan anjing. Aku tidak akan memakai kata tersebut Ketika berbicara dengan orang tua, maka aku juga tidak akan memakai kata itu dalam pembicaraan sehari-hari hingga didengar dan ditiru oleh anakku.

Aku adalah orang tua yang tidak ingin anaknya terbiasa memakai kata-kata kasar dalam percakapannya sehari-hari, baik dengan keluarga, atau orang lain. Masih ada ratusan ribu kata, bahkan jutaan kata jika digabung dengan bahasa daerah yang bisa digunakan selain kata-kata kotor dan umpatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s