Kontemplasi

Catatan Pikir #3: Lupa untuk Mengerti

Seberapa sering kita merasa bahwa dunia berputar mengelilingi kita? Selalu ingin dimengerti oleh semua orang, sementara kita lupa bahwa orang lain juga perlu dimengerti.

Seorang suami kadang lupa bahwa istrinya sedang berusaha berjuang mengasuh anak, mengerjakan pekerjaan rumah, sehingga suka seenaknya menyalahkan ketika rumah tidak rapi, makanan belum siap, atau anak terlihat tidak terurus. Ia merasa bahwa ia telah bekerja keras, membanting tulang memeras keringat mencari penghasilan yang layak untuk keluarganya, sehingga seakan berhak mendapat perlakuan istimewa di rumah. Apakah iya? Apakah posisi istri di rumah tidak lebih ringan pekerjaannya?

Seorang istri kadang lupa bahwa suaminya sedang bekerja keras membanting tulang emeras keringat mencari nafkah untuknya dan anak-anaknya, sehingga sering mengomel ketika suami pulang dalam keadaan letih, ingin beristirahat sebentar, atau tidak bisa membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Ia merasa bahwa sudah mengorbankan semuanya untuk keluarga—karier yang cemerlang, pendapatan yang besar, demi menjadi istri dan ibu—sehingga sering merasa bahwa pengorbanannya itu sangat perlu dihargai. Ia lupa bahwa beban pikiran suaminya bisa jadi bukan hanya keluarganya saja, bisa jadi masalah kantor, deadline, atasan, keluarga besar, serta penghasilan yang mungkin pas-pasan adalah hal-hal yang membebani pikirannya. Mungkin saja seorang suami tidak mau terlihat lemah dengan mengeluhkan beban pikirannya kepada istrinya. Mungkin saja ia ingin terlihat baik-baik saja sehingga tidak membebani pikiran istrinya yang mungkin sudah semrawut di rumah.

Seorang anak kadang lupa bahwa (harusnya) setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Sering kali seorang anak merasa bahwa yang ia lakukan sudah benar, tapi lupa mengomunikasikan dengan orang tuanya, sehingga sering terjadi perbenturan nilai yang berujung konflik. Seorang anak lupa bahwa ia tidak bisa memilih siapa orang tuanya, tapi bisa memilih bagaimana bersikap kepada orang tua. Seorang anak sering menyalahkan orang tuanya atas hal-hal yang terjadi pada dirinya sekarang.

Orang tua kadang lupa bahwa anaknya hidup di zaman yang berbeda dengan dirinya, pola pikir dan cara hidupnya juga sudah berbeda, sehingga sering memaksakan nilai yang mungkin tidak cocok dengan anak-anaknya. Orang tua sering merasa bahwa ia sudah bekerja keras demi anaknya, dan hal yang ia pilihkan merupakan yang terbaik untuk anaknya. Benarkah? Jangan-jangan hal yang menurut kita terbaik bagi anak, sebenarnya adalah hal yang baik menurut kita saja, belum tentu baik untuk anak.

Kita sering melihat hanya melalui kacamata atau sudut pandang kita saja, mengabaikan sudut pandang orang lain. Mungkin ini sama dengan kisah tiga orang buta yang menggambarkan gajah. Satu menggambarkan gajah berbentuk tipis dan lebar, satu menggambarkan gajah panjang seperti ular, dan satu lagi menggambarkan gajah seperti batang pohon—semua karena hanya memegang telinga, belalai, dan kakinya saja, tidak secara keseluruhan. Kita tidak akan bisa melihat gambaran besar (big picture), kalau hanya melihat dari satu sisi saja. Kita tidak akan bisa mengerti orang lain, kalau tidak mampu berempati, mencoba merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Salah satu cara untuk berempati dan saling mengerti adalah dengan membangun komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik tidak akan tumbuh jika kedua pihak lebih sibuk berbicara, tapi tidak mau mendengar—lebih ingin didengarkan, tapi tidak mau mendengarkan. Komunikasi akan lancar jika kedua pihak yang berkomunikasi mau menurunkan ego untuk bisa mendengarkan. Dengan belajar mendengar, maka kita sedang mencoba membangun empati pada lawan bicara.. Ketika empati sudah terbangun, maka kita juga akan bisa belajar mengerti orang lain.

Ketika semua orang sudah saling mengerti, maka konflik yang terjadi akan bisa diselesaikan dengan baik, tidak perlu menimbulkan masalah yang lebih besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s