Book I Read

Seseorang yang Keluar dari Perutnya, Seakan Menikmati Espresso Dalam Setiap Ceritanya

Beberapa waktu lalu, seorang kawan lama mengirimkan bukunya kepadaku—sebuah kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh Basabasi. Bukunya berjudul Seseorang yang Keluar dari Perutnya.

Hal yang menarik dari kawan lama ini adalah, sejak perkenalan pada tahun 2006, kami sama sekali belum pernah bertemu muka. Perkenalan kami dimulai di aplikasi chat mIRC, lalu pertemanan berlanjut di  media sosial (mulai dari Friendster, Facebook, dan Instagram). Dulu aku mengenalnya dengan nama Jee, atau kadang ia memakai nama TeruTeruBozu ketika di chatroom. Baru setelah berteman di media sosial, aku mengenalnya sebagai Jeni Fitriasha. Pertemanan selama lebih dua belas tahun ini hanya bertemu di dunia maya, tak pernah sekali pun bertemu langsung.

Kumpulan cerpen ini mengangkat berbagai cerita yang bisa terjadi dalam sebuah keluarga. Lebih tepatnya, berbagai tragedi yang terjadi dalam sebuah keluarga. Membunuh Nenek bercerita tentang seorang anak yang diasuh oleh neneknya, serta konflik yang mungkin terjadi di dalamnya. Menunggumu di Stasiun menceritakan hubungan seorang bapak dan anaknya serta ceritanya di sebuah stasiun.

Namun, tidak semua cerita dalam buku ini mengangkat tema utama keluarga. Toko Suka Miskin bercerita di masa depan ketika kemiskinan menjadi hal yang sangat langka sehingga orang-orang mau membelinya dengan harga mahal. Dongeng Langit Biru menyinggung kebakaran hutan hebat yang sempat terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan, sehingga dibayangkan di masa depan langit biru dan pelangi hanya menjadi sebuah dongeng belaka.

Masing-masing dari sembilan belas cerita di dalam kumpulan cerpen ini cukup pendek. Jika kalian terbiasa membaca cerpen-cerpen tujuh halaman A4 seperti di koran Kompas, maka cerpen-cerpen Jeni ini akan kalian anggap pendek. Tapi pendeknya cerita ini bukan berarti cerita yang ringan dan berlalu begitu saja. Menikmati masing-masing cerita dalam kumcer ini seperti meneguk espresso single shot—sedikit tapi sangat kental. Tiap cerita dikemas dengan sangat baik sehingga tetap memberikan kesan dalam dan menyentuh.

Jeni bercerita dengan lugas, singkat, tapi menyentuh perasaan pembaca. Di setiap akhir cerita kita akan hanyut dalam kondisi tokoh, dan bertanya-tanya dalam hati, “Apa yang akan terjadi pada hidup si tokoh berikutnya. Bagaimana jika aku yang berada pada posisi si tokoh?”

Membaca kumcer ini membuat kita berpikir bahwa ada banyak cerita dalam sebuah keluarga yang mungkin kita tidak pernah tahu. Masing-masing keluarga memikul ceritanya masing-masing yang tidak akan bisa disamakan dalam tiap keluarga. Ada banyak tragedi di dalam sebuah keluarga yang bisa terjadi, ada konflik dalam setiap anggota keluarga yang tak terungkap.

Meneguk espresso dalam setiap ceritanya ini akan menyentuh hati setiap pembacanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s