Humaniora

Majalah dan Literasi

Salah satu majalah favorit anak-anak tahun 90-an. Sumber: budiwarsito.net

Literasi  

li.te.ra.si1 /litêrasi/

  1. kemampuan menulis dan membaca
  2. pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu: — komputer
  3. kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup

Literasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan potensi dan keterampilan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis.

Pendapat lain mengatakan bahwa pengertian literasi adalah suatu kemampuan individu dalam mengolah dan memahami informasi ketika melakukan kegiatan membaca dan menulis. Dengan kata lain, literasi adalah seperangkat keterampilan dan kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, berhitung, serta memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari.

Secara etimologis, istilah literasi berasal dari bahasa Latin ‘literatus’ dimana artinya adalah orang yang belajar. Dalam hal ini, arti literasi sangat berhubungan dengan proses membaca dan menulis. (Sumber: maxmanroe.com)

Literasi pada Millenial

Sudah beberapa waktu aku kembali beraktivitas di bidang pendidikan, jadi pengajar. Kebetulan aku mengampu kelas Fisika dan TPA (Tes Potensi Akademik) untuk siswa SMA dalam persiapan mereka mengikuti UTBK untuk masuk perguruan tinggi negeri.

Tes Potensi Akademik  merupakan tes psikologi yang dapat mengungkap apa yang telah dicapai seseorang secara intelektual. Karena mengungkap kualitas intelektual, maka tinggi/rendah-nya nilai TPA sering dihubungkan dengan tinggi/rendah-nya tingkat kecerdasan. (Sumber: id.wikipedia.org)

TPA ini terdiri dari tes verbal, angka, dan vigural. Untuk tes angka dan vigural, umumnya para siswa bisa menyelesaikannya dengan baik. Akan tetapi, mereka seringkali kesulitan di tes verbal, khususnya bagian padanan dan lawan kata. Selain itu mereka juga kesulitan dalam memahami maksud soal cerita, sehingga sering salah mengartikan soal.

Sependek pemahamanku, para siswa ini kesulitan mengerjakan soal TPA verbal dan memahami soal cerita karena literasi mereka yang rendah. Mengapa literasi mereka rendah, karena mereka jarang dan sedikit yang senang membaca.

Sebagai generasi yang lahir dengan teknologi, siswa sekolah menengah terbiasa dengan teks-teks pendek di media sosial, seperti twitter, facebook, Instagram, dan lain-lain. Mereka tidak terbiasa membaca dan memahami teks yang lebih dari 300 kata. Topik bacaan mereka juga terbatas, sehingga penguasaan diksi mereka rendah. Tak banyak yang mengerti beberapa kata sulit seperti kontradiksi, komprehensif, koheren, dan kata-kata yang tidak lazim dipakai secara umum lainnya.

Kondisi ini jauh berbeda dengan orang tua mereka. Salah satu orang tua siswa memarahi anaknya karena nilai TPA verbalnya jelek.

“Kamu harus banyak baca, karena itu bukan soal yang sulit,” kata mama siswa tersebut.

“Coba mama yang kerjain,” anak tersebut menantang mamanya.

Hasilnya, mamanya mengerjakan soal TPA verbal dalam waktu 15 menit (20 soal) dan benar 19 dari 20 soal.

Literasi Pada Generasi Pra-Millenial

Mengapa orang tuanya mampu mengerjakan soal dengan cepat dan hampir tepat? Karena mereka tumbuh dan berkembang dengan bacaan-bacaan yang melimpah dan banyak tema.

Orang-orang yang lahir sebelum tahun 90-an tumbuh besar dikelilingi banyak bacaan. Banyak keluarga yang berlangganan koran, majalah, dan tabloid. Ruang tunggu di berbagai tempat hampir pasti memiliki majalah sebagai pengisi waktu, karena pada zaman itu belum ada handphone yang bisa mengusir kebosanan.

Mereka akrab dengan majalah-majalah seperti Bobo, Hai, Kartini, Anita, serta tabloid seperti Fantasi, Bola, dan lainnya. Tak sedikit mereka yang setiap hari pasti membaca koran nasional ataupun lokal. Tiap artikel atau berita di majalah, tabloid, dan koran pasti berisi lebih dari 500 kata. Akibatnya, kemampuan membaca teks yang cukup panjang lebih baik, diiringi kemampuan memahami teks yang juga meningkat.

Meningkatkan Literasi Millenial

Literasi millennial ini harus ditingkatkan, karena pada akhirnya mereka akan berhadapan dengan sejumlah buku kuliah yang berisi jutaan kata. Mereka harus mau dan mampu memahami berbagai istilah-istilah yang jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari.

Bagaimana cara meningkatkan literasi generasi muda ini? Mereka harus dikenalkan kembali pada bacaan-bacaan seperti majalah, bahkan jika mungkin majalah itu sendiri. Sedari dini mereka harus dibiasakan untuk membaca buku, majalah, atau artikel serta essay. Jika tidak mungkin hard copy seperti majalah dan koran, kenalkan mereka ke situs-situs yang berisi berita, atau artikel mendidik yang berisi lebih dari 500 kata per artikel.

Orang tua harus mau dan bisa memberi contoh membiasakan diri membaca. Bukankah anak merupakan cerminan dari orang tua?

Advertisements

One thought on “Majalah dan Literasi

  1. yups, setuju sekali..anak-anak sekarang terlalu biasa dengan jenis teks pendek-pendek ala postingan medsos. Masih belum banyak anak yang benar-benar suka membaca. Makanya kemampuan verbalnya ya segitu aja. Saya sendiri guru bahasa, Kalu pas ujian, itu anak-anak sma ngeluhnya minta ampun : Buu susaah teksnya puanjang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s