Ide

PENANGGULANGAN BENCANA BERBASIS MASYARAKAT

Supermarket Bencana

Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi bencana terbesar di dunia. Seluruh Indonesia merupakan kawasan rawan bencana. Hampir semua bencana alam yang ada di dunia bisa terjadi di Indonesia, kecuali badai salju. Tak salah Indonesia disebut sebagai “supermarket bencana alam”.

Indonesia merupakan negara dengan potensi bencana tertinggi di dunia. (Sumber: BNPB)

Ada banyak faktor yang memengaruhi terjadinya bencana alam di Indonesia. Salah satunya adalah posisi Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik yang bergerak relatif saling mendesak satu dengan lainnya. Ketiga lempeng tersebut adalah Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Laut Philipina.

Pertemuan lempeng tersebut menghasilkan gunung api yang memanjang mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, hingga kemudian terus ke Philipina. Formasi gunung berapi ini membuat Indonesia dikenal sebagai Ring of Fire, karena banyak gunung api yang berada dalam formasi ini masih aktif.

Interaksi ketiga lempeng ini juga menjadikan Indonesia sebagai negara dengan risiko gempa terbesar kedua setelah Jepang. Gempa dan tsunami Aceh pada tahun 2004 merupakan akibat dari tunjaman Lempeng Samudera Hindia ke bawah Lempeng Eurasia. Terakhir, gempa yang terjadi di Lombok dan Palu menunjukkan kepada kita efek pergerakan lempeng tersebut.

Gempa dan tsunami Aceh yang terjadi pada tahun 2004 memantik pemerintah membentuk badan khusus yang menangani penanggulangan bencana. Pada tahun 2008, dibentuklah Badan Nasional Penanggulangan Bencana(BNPB) menggantikan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana. Lembaga ini bertindak sebagai pusat koordinasi gerakan penanggulangan bencana Indonesia. BNPB dengan perpanjangannya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menangani berbagai kasus bencana alam pada daerah-daerah di Indonesia, mulai dari gempa Padang, erupsi Merapi Yogyakarta, dan bencana-bencana alam lainnya.

Penanggulangan Bencana

Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan becana, tanggap darurat, dan rehabilitasi (UU No. 24 Tahun 2007).

Penanggulangan bencana adalah siklus kegiatan yang meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, mitigasi, tanggap darurat, rehabilitas, dan rekonstruksi. Semua kegiatan ini bertujuan mengurangi, bahkan menghilangkan risiko dampak bencana, lalu mempercepat proses normalisasi semua sektor kehidupan setelah terjadinya bencana. Masing-masing kegiatan tidak bisa berdiri sendiri karena penanggulangan bencana adalah sebuah kegiatan berkelanjutan.

Pandangan umum yang berkembang di masyarakat adalah bahwa penanggulangan bencana hanya terkait dengan kegiatan tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Bahkan sering kali kegiatan penanggulangan bencana hanya terfokus pada tanggap darurat.

Setiap kali terjadi bencana, hampir semua kalangan bergerak mengumpulkan bantuan untuk disalurkan ke daerah yang terdampak bencana. Tidak hanya pemerintah melalui lembaga-lembaganya, LSM, komunitas, bahkan pelajar dan mahasiswa bergerak mengumpulkan bantuan dan menyalurkannya kepada masyarakat terdampak bencana.

Beberapa tahun ke belakang, organisasi relawan mulai marak bermunculan di seluruh Indonesia. Mereka hampir selalu menjadi ujung tombak kegiatan tanggap darurat di berbagai daerah yang mengalami bencana. Di lokasi bencana, para relawan berkoordinasi dengan BPBD menyelenggarakan program-program tanggap darurat yang dibawa pemerintah maupun yang dibawa oleh lembaganya sendiri.

Namun, tak jarang kegiatan penyaluran bantuan ini dijadikan sebagai ajang unjuk gigi tanpa diiringi pemahaman yang kuat tentang etika di lokasi bencana. Tak sedikit orang-orang yang menjadi “wisatawan bencana”, orang-orang yang datang ke lokasi bencana hanya untuk sekadar berfoto, dan menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang peduli kepada orang lain. Keberadaan para wisatawan bencana ini sering kali mengganggu upaya pemberian bantuan yang dilakukan oleh relawan dan pihak yang berkepentingan.

Penanggulangan bencana berbasis masyarakat

Kegiatan penanggulangan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Kegiatan ini harus meliputi, menjangkau, dan melibatkan semua pihak serta masyarakat yang berada di daerah berisiko bencana. Tidak ada satu pun lembaga yang bisa dan mampu melakukan kegiatan penanggulangan bencana sendiri. Semua pihak yang terlibat dalam kegiatan penanggulangan bencana harus bahu-membahu dalam penyelenggaraan kegiatan ini.

Sesuai tujuan kegiatan penanggulangan bencana, yaitu mengurangi dan menghilangkan risiko dampak, serta mempercepat proses normalisasi aspek kehidupan masyarakat pasca bencana, maka masyarakat kemudian harus menjadi aktor utama dalam kegiatan penanggulangan bencana. Masyarakat perlu dipersiapkan mengantisipasi, menghadapi, dan kemudian pulih dari kejadian bencana.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka perlu diselenggarakan kegiatan penanggulangan bencana berbasis masyarakat. Capaian dari kegiatan tersebut adalah menanamkan pengetahuan dan membangun kemampuan diri masyarakat dalam mengantisipasi, menghadapi, dan pulih dari kejadian bencana. Ketika masyarakat telah memiliki kemampuan yang diinginkan, maka mereka menjadi ujung tombak dalam kegiatan penanggulangan bencana di bawah koordinasi pemerintah melalui BNPB/BPBD.

Penyelenggaraan penanggulangan bencana berbasis masyarakat bukan sebuah kegiatan instan, perlu proses yang tidak sebentar dalam pelaksanaannya. Untuk memulainya, maka perlu dibentuk simpul-simpul kecil dalam masyarakat. Tujuannya untuk untuk memudahkan terjadinya transfer pengetahuan kepada masyarakat sasaran program. Simpul-simpul kecil dalam masyarakat diharapkan mampu melakukan kegiatan penanggulangan bencana yang komprehensif bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga lainnya.

Masjid sebagai kunci simpul masyarakat

Sebagai negara dengan mayoritas masyarakat beragama Islam, maka jumlah masjid yang ada di Indonesia sangat besar. Data Kementerian Agama pada tahun 2011 menunjukkan bahwa di daerah Jawa Barat saja terdapat 468.132 masjid tersebar di seluruh provinsi. Hampir setiap daerah, bahkan yang berada di pelosok sekali pun, memiliki masjid sebagai tempat beribadah.

Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah saja. Dalam pelaksanaannya, masjid menjadi simpul-simpul komunitas dalam masyarakat. Di dalamnya ada komunitas pengajian, remaja masjid, dan lainnya. Masjid juga menjadi sumber informasi untuk masyarakat di sekitarnya. Pengurus dan imam masjid merupakan tetua masyarakat yang dihormati.

Potensi masjid sebagai kunci simpul masyarakat ini bisa dimanfaatkan dalam pelaksanaan penyelenggaraan penanggulangan bencana berbasis masyarakat. Masjid bisa menjadi pusat kegiatan penyuluhan dan pembimbingan untuk kelompok masyarakat seperti pemuda, anak, ibu-ibu, dan lainnya. Selain itu, jika terjadi bencana maka masjid bisa dijadikan pusat pergerakan dan pos penyaluran bantuan untuk daerah di sekitarnya.

Potensi masjid sebagai wadah simpul-simpul masyarakat ini sangat sayang jika diabaikan begitu saja. Pemanfaatan masjid sebagai pusat pergerakan penanggulangan bencana pada suatu daerah meningkatkan kemungkinan terbentuknya masyarakat siaga bencana. Sayangnya masih sedikit lembaga pemerintah maupun swadaya masyarakat yang melirik potensi besar ini.

Kita harus menconton negara Jepang yang telah melaksanakan penanggulangan bencana secara komprehensif pada seluruh lapisan masyarakat. Jangan sampai kita harus menunggu terjadinya bencana lebih besar lagi supaya sadar bahwa penanggulangan bencana merupakan hak dan kewajiban semua kalangan.

 

Advertisements

3 thoughts on “PENANGGULANGAN BENCANA BERBASIS MASYARAKAT

  1. Wah artikel ini bermanfaat sekali untuk saya, kebetulan saya ingin ikutan lomba menulis artikel untuk mitigasi bencana. Tapi settingnnya di sekolahan. Saya tunggu artikel berikutnya, kalau ada yang soal mitigasi bencana, please. hehe untuk bantu-bantu menambah wawasan saya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s