Kontemplasi

Masa Sebelum Menikah

Gambar dari: arah.com

Dulu aku pernah sangat ingin menikah di usia muda. Aku jatuh cinta pada seorang wanita, lalu bermimpi untuk menikahinya. Pada akhirnya kusadari bahwa pada saat itu aku sama sekali belum siap, belum matang, semuanya.

Lalu kutemukan seorang wanita, dan aku yakin dia adalah wanita yang akan menjadi istriku. Tetapi ternyata tidak semudah itu. Menyiapkan pernikahan tidak semudah merencanakan sebuah perjalanan mendaki gunung. Butuh waktu beberapa tahun sebelum akhirnya kuucapkan ijab qabul di depan ayahnya.

Dalam masa itu banyak cerita yang tertulis. Ada banyak pertanyaan yang muncul dari kami berdua, banyak proses pendewasaan yang membentuk kami. Tuhan sedang mempersiapkan kami berdua untuk membangun keluarga yang baik. Tuhan tentu yang paling tahu kapan waktu terbaik bagi kami.

Dalam masa mempersiapkan diri tersebut, komitmen terhadap satu sama lain ditempa oleh konflik, pertanyaan, dan keraguan yang muncul. Tentu saja banyak hal-hal indah turut memperkuat komitmen tersebut.

Sampai akhirnya, kami berdua benar-benar telah yakin, dan restu orangtua pun didapatkan. Tetapi, perjalanan tidak semakin mudah. Beberapa teman telah pernah mewanti-wanti, bahwa ketika menjelang pernikahan,  ada saja muncul cobaan, kadang dari sisi yang tidak kita sangka-sangka. Tak jarang ada yang kandas di fase ini.

Alhamdulillah, Tuhan masih mengizinkan kami untuk bersatu dalam bahtera rumah tangga. Setelah penghulu dan saksi menyatakan sah, sontak ada kelegaan di dalam hati, mengingat kembali bertahun-tahun cerita yang tertulis sejak pertama kali berkenalan.

Kisah perjalanan kami sebelum pernikahan ini mengajarkanku bahwa setiap orang punya cerita masing-masing. Setiap orang mengalami tantangan masing-masing, tak boleh sekali pun kita menghakimi, bahkan sekadar bertanya “kapan nikah” kalau tidak benar-benar peduli dan memang berniat mencarikan solusi dari permasalahannya.

Kita tidak pernah tahu apakah pertanyaan kita itu melukai perasaan orang yang kita tanya.

Advertisements
Ide

PENANGGULANGAN BENCANA BERBASIS MASYARAKAT

Supermarket Bencana

Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi bencana terbesar di dunia. Seluruh Indonesia merupakan kawasan rawan bencana. Hampir semua bencana alam yang ada di dunia bisa terjadi di Indonesia, kecuali badai salju. Tak salah Indonesia disebut sebagai “supermarket bencana alam”.

Indonesia merupakan negara dengan potensi bencana tertinggi di dunia. (Sumber: BNPB)

Ada banyak faktor yang memengaruhi terjadinya bencana alam di Indonesia. Salah satunya adalah posisi Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik yang bergerak relatif saling mendesak satu dengan lainnya. Ketiga lempeng tersebut adalah Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Laut Philipina.

Pertemuan lempeng tersebut menghasilkan gunung api yang memanjang mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, hingga kemudian terus ke Philipina. Formasi gunung berapi ini membuat Indonesia dikenal sebagai Ring of Fire, karena banyak gunung api yang berada dalam formasi ini masih aktif.

Interaksi ketiga lempeng ini juga menjadikan Indonesia sebagai negara dengan risiko gempa terbesar kedua setelah Jepang. Gempa dan tsunami Aceh pada tahun 2004 merupakan akibat dari tunjaman Lempeng Samudera Hindia ke bawah Lempeng Eurasia. Terakhir, gempa yang terjadi di Lombok dan Palu menunjukkan kepada kita efek pergerakan lempeng tersebut.

Gempa dan tsunami Aceh yang terjadi pada tahun 2004 memantik pemerintah membentuk badan khusus yang menangani penanggulangan bencana. Pada tahun 2008, dibentuklah Badan Nasional Penanggulangan Bencana(BNPB) menggantikan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana. Lembaga ini bertindak sebagai pusat koordinasi gerakan penanggulangan bencana Indonesia. BNPB dengan perpanjangannya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menangani berbagai kasus bencana alam pada daerah-daerah di Indonesia, mulai dari gempa Padang, erupsi Merapi Yogyakarta, dan bencana-bencana alam lainnya.

Penanggulangan Bencana

Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan becana, tanggap darurat, dan rehabilitasi (UU No. 24 Tahun 2007).

Penanggulangan bencana adalah siklus kegiatan yang meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, mitigasi, tanggap darurat, rehabilitas, dan rekonstruksi. Semua kegiatan ini bertujuan mengurangi, bahkan menghilangkan risiko dampak bencana, lalu mempercepat proses normalisasi semua sektor kehidupan setelah terjadinya bencana. Masing-masing kegiatan tidak bisa berdiri sendiri karena penanggulangan bencana adalah sebuah kegiatan berkelanjutan.

Pandangan umum yang berkembang di masyarakat adalah bahwa penanggulangan bencana hanya terkait dengan kegiatan tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Bahkan sering kali kegiatan penanggulangan bencana hanya terfokus pada tanggap darurat.

Setiap kali terjadi bencana, hampir semua kalangan bergerak mengumpulkan bantuan untuk disalurkan ke daerah yang terdampak bencana. Tidak hanya pemerintah melalui lembaga-lembaganya, LSM, komunitas, bahkan pelajar dan mahasiswa bergerak mengumpulkan bantuan dan menyalurkannya kepada masyarakat terdampak bencana.

Beberapa tahun ke belakang, organisasi relawan mulai marak bermunculan di seluruh Indonesia. Mereka hampir selalu menjadi ujung tombak kegiatan tanggap darurat di berbagai daerah yang mengalami bencana. Di lokasi bencana, para relawan berkoordinasi dengan BPBD menyelenggarakan program-program tanggap darurat yang dibawa pemerintah maupun yang dibawa oleh lembaganya sendiri.

Namun, tak jarang kegiatan penyaluran bantuan ini dijadikan sebagai ajang unjuk gigi tanpa diiringi pemahaman yang kuat tentang etika di lokasi bencana. Tak sedikit orang-orang yang menjadi “wisatawan bencana”, orang-orang yang datang ke lokasi bencana hanya untuk sekadar berfoto, dan menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang peduli kepada orang lain. Keberadaan para wisatawan bencana ini sering kali mengganggu upaya pemberian bantuan yang dilakukan oleh relawan dan pihak yang berkepentingan.

Penanggulangan bencana berbasis masyarakat

Kegiatan penanggulangan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Kegiatan ini harus meliputi, menjangkau, dan melibatkan semua pihak serta masyarakat yang berada di daerah berisiko bencana. Tidak ada satu pun lembaga yang bisa dan mampu melakukan kegiatan penanggulangan bencana sendiri. Semua pihak yang terlibat dalam kegiatan penanggulangan bencana harus bahu-membahu dalam penyelenggaraan kegiatan ini.

Sesuai tujuan kegiatan penanggulangan bencana, yaitu mengurangi dan menghilangkan risiko dampak, serta mempercepat proses normalisasi aspek kehidupan masyarakat pasca bencana, maka masyarakat kemudian harus menjadi aktor utama dalam kegiatan penanggulangan bencana. Masyarakat perlu dipersiapkan mengantisipasi, menghadapi, dan kemudian pulih dari kejadian bencana.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka perlu diselenggarakan kegiatan penanggulangan bencana berbasis masyarakat. Capaian dari kegiatan tersebut adalah menanamkan pengetahuan dan membangun kemampuan diri masyarakat dalam mengantisipasi, menghadapi, dan pulih dari kejadian bencana. Ketika masyarakat telah memiliki kemampuan yang diinginkan, maka mereka menjadi ujung tombak dalam kegiatan penanggulangan bencana di bawah koordinasi pemerintah melalui BNPB/BPBD.

Penyelenggaraan penanggulangan bencana berbasis masyarakat bukan sebuah kegiatan instan, perlu proses yang tidak sebentar dalam pelaksanaannya. Untuk memulainya, maka perlu dibentuk simpul-simpul kecil dalam masyarakat. Tujuannya untuk untuk memudahkan terjadinya transfer pengetahuan kepada masyarakat sasaran program. Simpul-simpul kecil dalam masyarakat diharapkan mampu melakukan kegiatan penanggulangan bencana yang komprehensif bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga lainnya.

Masjid sebagai kunci simpul masyarakat

Sebagai negara dengan mayoritas masyarakat beragama Islam, maka jumlah masjid yang ada di Indonesia sangat besar. Data Kementerian Agama pada tahun 2011 menunjukkan bahwa di daerah Jawa Barat saja terdapat 468.132 masjid tersebar di seluruh provinsi. Hampir setiap daerah, bahkan yang berada di pelosok sekali pun, memiliki masjid sebagai tempat beribadah.

Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah saja. Dalam pelaksanaannya, masjid menjadi simpul-simpul komunitas dalam masyarakat. Di dalamnya ada komunitas pengajian, remaja masjid, dan lainnya. Masjid juga menjadi sumber informasi untuk masyarakat di sekitarnya. Pengurus dan imam masjid merupakan tetua masyarakat yang dihormati.

Potensi masjid sebagai kunci simpul masyarakat ini bisa dimanfaatkan dalam pelaksanaan penyelenggaraan penanggulangan bencana berbasis masyarakat. Masjid bisa menjadi pusat kegiatan penyuluhan dan pembimbingan untuk kelompok masyarakat seperti pemuda, anak, ibu-ibu, dan lainnya. Selain itu, jika terjadi bencana maka masjid bisa dijadikan pusat pergerakan dan pos penyaluran bantuan untuk daerah di sekitarnya.

Potensi masjid sebagai wadah simpul-simpul masyarakat ini sangat sayang jika diabaikan begitu saja. Pemanfaatan masjid sebagai pusat pergerakan penanggulangan bencana pada suatu daerah meningkatkan kemungkinan terbentuknya masyarakat siaga bencana. Sayangnya masih sedikit lembaga pemerintah maupun swadaya masyarakat yang melirik potensi besar ini.

Kita harus menconton negara Jepang yang telah melaksanakan penanggulangan bencana secara komprehensif pada seluruh lapisan masyarakat. Jangan sampai kita harus menunggu terjadinya bencana lebih besar lagi supaya sadar bahwa penanggulangan bencana merupakan hak dan kewajiban semua kalangan.

 

Humaniora

Ikhlas dan Berbaik Sangka

ikh.las a bersih hati; tulus hati

ba.ik 4 a tidak jahat

sang.ka 1 duga; kira

Aku masuk ke dunia kerelawanan-kebencanaan sejak 2011. Sebenarnya tahun 2009, tapi baru benar-benar serius menggelutinya pada tahun 2011. Banyak cerita tertulis dalam buku harian kehidupan. Ada banyak hal yang kupelajari selama berkecimpung dalam dunia kerelawanan-kebencanaan selama bertahun-tahun tersebut.

Dua di antara pelajaran paling utama (dan tidak mudah) yang kudapatkan selama menjadi relawan adalah belajar ikhlas dan berbaik sangka.

Ikhlas

Pernah menonton film Kiamat Sudah Dekat yang dibintangi Andre Taulani? Pada akhir usahanya untuk melamar Zascia Adya Mecca, Dedi Mizwar meminta Andre untuk belajar ilmu ikhlas. Ia bertanya, membaca buku, tapi pada akhirnya tidak memahami tentang ilmu ikhlas itu. Ketika di akhir, ia mengakui tidak memahami ilmu ikhlas, dan rela ketika Zascia disunting oleh pria lain yang lebih paham ilmu ikhlas. Akhirnya Dedi Mizwar berkata bahwa itulah ikhlas yang sebenarnya.

Sama seperti Andre, ikhlas sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ikhlas bisa berarti ketulusan, kerelaan, kepasrahan menerima suatu keputusan atau keadaan. Ikhlas juga bisa berarti tulus dalam memberikan sesuatu, tidak meminta pamrih atau imbalan.

Mengapa ikhlas tidak mudah? Pernahkah terbesit dalam hati “Itu kan gara-gara gue.”, “Coba kalau nggak gue,”, atau pernyataan senada ketika melihat suatu pencapaian, keberhasilan, atau kebahagiaan orang lain. Kita sering merasa keberhasilan orang lain terjadi karena campur tangan kita. Ini akan merusak keikhlasan kita berbuat baik.

Kita sering sengaja atau tanpa sadar mengungkit kebaikan yang kita lakukan atau berikan kepada orang lain. Bahkan dalam konteks bercanda pun, tidak sebaiknya kita melakukannya. Konon setitik rasa bangga atas kebaikan yang kita lakukan bisa merusak keikhlasan kita dalam berbuat baik.

Dalam bidang kerelawanan, keikhlasan adalah tonggak utama. Fokuskan niat kita semata-mata hanya untuk membantu orang lain, bukan untuk mencari ketenaran, kekayaan, atau prestasi. Hal-hal itu hanya efek samping.

Percaya atau tidak, orang-orang yang kita bantu bisa merasakan apakah perbuatan baik kita dilakukan secara tulus atau ada motif tersembunyi.

Ikhlas itu tidak mudah, tapi bukan berarti sulit.

 

Berbaik Sangka

Selama menjadi relawan, pasti selalu ada kerja sama dengan orang lain. Tak jarang kita mempertanyakan motif mereka bergerak bersama kita. Seringkali kita berprasangka karena melihat kelakuan mereka yang mungkin tidak sesuai dengan norma dan nilai yang kita anut.

Berprasangka sesungguhnya merusak hati, menghancurkan ketenangan jiwa. Kita ambil contoh sederhana yang mungkin sering kita alami.

Amir berjanji menemui Umar pada pukul 15.00 di suatu kedai kopi. Umar telah hadir di lokasi pada pukul 14.55. Umar menunggu Amir datang. Pukul 15. 15 Amir masih belum datang, di-WA tidak membalas. Karena janji ini membahas urusan yang cukup penting, Umar masih menunggu. Pukul 15.30 Amir masih belum menampakkan batang hidungnya. Umar mulai berburuk sangka,  “Amir ini sama sekali tidak menghormati janji. Orang macam apa ini.” Umar mulai mencela, merutuk, lalu marah.

Pukul 15.45, Amir datang dengan muka cemas. Ada luka di siku dan lutut kirinya. Ternyata ia mengalami kecelakaan di jalan, mengakibatkan ia terlambat dan ponselnya rusak parah. Tapi karena menghormati janji, ia tetap mengusahakan datang walau dalam keadaan terluka.

Beda cerita jika Umar berbaik sangka. Ketika Amir belum juga datang, ia akan berpikir, “Mungkin Amir terjebak kemacetan, dan tidak bisa mengomunikasikan lewat WA.” Umar akan menunggu dengan tenang, menikmati secangkir kopi, tanpa ada rasa marah dan kesal.

Berbaik sangka akan mengubah cara pandang kita terhadap orang lain. Kita akan selalu mencari sisi positif dari seseorang, daripada mencari-cari kelemahannya. Kita tidak akan menghakimi seseorang, kecuali sudah nyata bahwa ia melakukan kesalahan.

Mengapa berbaik sangka tidak mudah. Karena lebih mudah mencari-cari kesalahan orang lain daripada mencari kebaikannya. Bukankah kesalahan orang lain akan selalu tampak, sekecil apa pun itu. Maka kita perlu mulai melihat sisi positif dari setiap orang, supaya bisa berbaik sangka kepadanya.

Kita bisa melatih kedua hal di atas, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang.

Ikhlas, lupakan kesalahan orang lain, lupakan kebaikan kita kepada orang lain, tapi selalu ingat kesalahan kita kepada orang lain, dan kebaikan orang lain kepada kita.

Berbaik sangka, selalu lihat sisi positif dari seseorang (atau kejadian).

Humaniora · Kontemplasi

Jangan Remehkan Dosa Kecil

Seumur hidup kita, mungkin kita selalu diberikan peringatan akan bahaya dosa-dosa besar seperti syirik, zina, pembunuhan, khamr, dan lain-lain. Kita berusaha keras menjauhi dosa-dosa besar tersebut.

Tapi kita sering terlupa akan dosa-dosa kecil. Tak sedikit di antara kita yang meremehkan dosa-dosa kecil. Bukankah kita sering memakai sendal, pulpen, atau barang kecil orang lain tanpa izin dari mereka. Mungkin kita menganggap hal itu biasa aja,”not a big thing”. Tetapi, bagaimana jika kita diwafatkan saat melakukan hal tersebut? Apa alasan yang akan kita sampaikan pada malaikat ketika ditanya alasan kita melakukan dosa tersebut.

Sahabat, jika kita misalkan hati adalah cermin, maka dosa kecil adalah debu-debu tipis. Terlihat tidak memengaruhi cermin tersebut. Tapi jika kita meremehkan debu, maka lama kelamaan debu tersebut akan menumpuk dan berkerak di dalam hati kita.

Waspadalah sahabat. Dosa kecil yang dibiarkan terus-menerus akan menggerogoti hati kita secara perlahan. Seteguk air putih milik orang lain yang kita minum tanpa izin darinya akan tetap haram sampai orangnya merelakannya dan memaafkan kita sehingga menjadi halal. Pena yang kita pakai tanpa izin dari pemiliknya tidak akan memberikan hasil yang berkah, bahkan walau kita menulis seruan kebaikan dengannya.

Waspadalah sahabat akan dosa-dosa kecil. Bukankah kita tidak akan terjatuh karena batu besar, melainkan karena kerikil kecil?

Kontemplasi

Everything Happens for A Reason

 

Pernahkah kau kembali melihat sejenak ke belakang, melakukan refleksi diri terhadap apa yang telah kau lalui dan alami? Apakah benakmu dipenuhi berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi jika kau memilih jalan yang berbeda?

Rasanya itu semua hal yang wajar, mungkin hampir semua orang melakukannya, berandai-andai dengan alternatif yang mungkin muncul. Apalagi ketika hidup yang kita jalani sekarang tidak berjalan sesuai cita-cita kita di awal.

Namun pernahkah kau berpikir bahwa apa yang terjadi di masa lalu adalah hal terbaik yang diberikan-Nya. Mungkin jika kau mendapatkan pekerjaan di perusahaan multinasional, bukan di perusahaan kecil seperti sekarang, kau menjadi seorang hedonist yang jauh dari Tuhan.

Mungkin akan ada fase saat kau merutuki kondisi saat ini, meratapi masa lalu, menyesali jalan yang kau ambil sekarang. Coba lihat berkah-berkah yang telah kau dapatkan sekarang, capaian-capaian yang sangat kau syukuri, serta pengalaman-pengalaman indah yang kau jalani.

Merutuki masa lalu tidak akan mengubah apa pun. Kau tidak akan dikembalikan ke masa lalu, lalu memperbaiki hidupmu dengan jalan yang menurutmu baik. Percayalah bahwa apa yang terjadi merupakan hal terbaik yang diberikan Tuhan kepadamu. Ia tidak memberikanmu apa yang kau inginkan, tapi apa yang terbaik untukmu.

Jika masih ada yang terjebak dengan penyesalan masa lalu, saranku, maafkanlah dirimu sendiri terlebih dahulu. Maafkan atas semua kebodohan, kekhilafan, dan ketidaktahuanmu di masa lalu. Jadikan semua hal tersebut pelajaran untuk menjalani hidup yang lebih baik di masa depan.

Lalu, berbaiksangkalah kepada Pemilik Skenario Terbaik. Ia yang tahu jalan hidup apa yang sebaiknya engkau jalani. Jangan lupa bersyukur atas apa yang telah engkau dapatkan, alami, dan miliki hingga hari ini. Lihatlah ke bawah, ada banyak orang yang tidak seberuntung engkau dalam hidupnya.

Rangkullah hidupmu sekarang, syukuri, dan jalani dengan sebaik mungkin. Percayalah bahwa everything happens for a reason.

Kontemplasi

Hijrah, Awas Ujub

Hijrah secara bahasa berarti berpindah, umumnya hijrah diartikan sebagai peristiwa berpindahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Namun, hijrah diluaskan artinya sebagai perpindahan seseorang menuju kondisi yang lebih baik.

Ketika seseorang memutuskan untuk belajar ilmu Islam lebih dalam, memperbaiki ibadahnya, serta mengubah sikap dan tingkah lakunya sehingga sejalan dengan nilai-nilai Islam, maka ia dikatakan telah berhijrah. Hijrah mengalami peluasan makna, namun intinya adalah berubah ke kondisi yang lebih baik.

Saat ini banyak pemuda yang memutuskan hijrah. Semakin banyak kita lihat kajian-kajian yang ramai dihadiri pemuda-pemudi, semakin tenarnya ustadz/ulama muda di kalangan anak muda, dan ramainya postingan-postingan kebaikan di sosial media.

Namun, ada satu bahaya laten yang mengintai para pemuda-pemudi hijrah. Bahaya tersebut bernama Ujub

Ujub dalam Islam diartikan sebagai perilaku atau sifat mengagumi diri sendiri dan senantiasa membanggakan dirinya sendiri. Sifat ujub adalah salah satu sifat tercela atau sifat yang harus dihindari oleh umat muslim karena sifat ini bisa membuat seseorang menjadi sombong maupun riya. Sifat ujub juga dijelaskan oleh beberapa ulama diantaranya pendapat dari Ibnul Mubarok dan Imam Al Ghazali berikut ini

  • Ibnul Mubarok  berkata, perasaan ‘ujub adalah ketika seseorang merasa bahwa dirinya mempunyai suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain.
  • Imam Al Ghozali menyebutkan bahwa perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang akan suatu karunia yang ada pada dirinya dan merasa memilikinya sendiri serta tidak menyadari bahwa karunia tersebut adalah pemberian Allah SWT. Orang yang memiliki sifat ujub tidak akan mengembalikan keutamaan yang dimiliki tersebut kepada Allah SWT”

Dari uraian dan pendapat ulama diatas maka dapat diketahui bahwa ujub adalah suatu perilaku tercela meskipun hanya ada di batin saja. Misalnya seseorang yang merasa bangga akan kepintarannya dan memandang rendah orang lain. Hal ini tentu tidak dibenarkan dalam Islam karena segala yang dimiliki oleh manusia adalah karunia Allah SWT dan kita tidak bangga akan karunia tersebut. dalamislam.com

Ujub dalam hati bisa terbetik saat melihat seseorang yang masih tenggelam dalam keduniaannya, atau masih belum hijrah. Betapa mudahnya hati berkata, “Aku lebih baik darinya, karena aku sholat di masjid.”, “Kerudungku lebih lebar dan dalam darinya, jangan coba-coba menasihati deh.”

Sependek pemahamanku, syetan menggoda kita dari berbagai arah dan berbagai cara. Ujub adalah salah satu bisikan berbahaya yang akan merusak amalan baik kita. Ujub menghapuskan amalan, mendatangkan murka Allah, membaut kita cenderung pada sikap takabbur, serta merusak hubungan dengan sesama manusia.

Berhati-hatilah, ujub bisa datang kapan saja. Selalu rendahkan hati kita, tundukkan kesombongan kita, dan ingatlah bahwa tidak ada yang bisa dibanggakan dari diri kita. Di atas langit masih ada langit, selalu ada orang yang lebih baik dari diri kita.

Dalam hal kebaikan dan ibadah, lihatlah orang-orang yang jauh lebih baik dari kita, maka kita akan berusaha mengejar ibadahnya. Dalam hal harta kekayaan dan dunia, lihatlah orang-orang yang di bawah kita. Ini akan mengajarkan kita untuk bersyukur.

Semoga kita dilindungi dari sikap ujub, takabur, dan riya. Aamiin.

Ini adalah sebuah tulisan sebagai pengingat kepada teman-teman yang telah hijrah, dan juga untuk diri sendiri yang masih sangat jauh dari sempurna.

Book I Read

Good Leader Ask Great Questions, Mulailah Memimpin dengan Pertanyaan

 

Dulu ketika zaman kuliah, selalu ditanamkan untuk memulai sebuah kegiatan dengan pertanyaan “mengapa”. Pertanyaan mengapa akan memberikan kita alasan dan pondasi. Setelah itu, baru muncul pertanyaan berikutnya: Apa, siapa, kapan, di mana, dan bagaimana.

Pertanyaan “mengapa” berlaku dalam setiap hal di kehidupan. Mengapa kamu memilih membaca postingan ini, mengapa bekerja di tempat ini, mengapa menerima lamaran dia, mengapa, dan mengapa…

Ingin tahu adalah sifat dasar manusia. Karena rasa ingin tahu maka ilmu pengetahuan berkembang. Karena pertanyaan “mengapa apel jatuh ke tanah?” maka Newton menyusun hukum grafitasi. Manusia normal akan selalu penuh dengan pertanyaan.

Begitu juga dalam kepemimpinan. Ketika seseorang memulai atau sudah berkecimpung dalam dunia kepemimpinan, maka ia akan terus bertanya-tanya, baik pada dirinya sendiri atau pada orang lain.

Pertanyaan seperti: apakah aku layak memimpin, mengapa harus aku, apa yang harus aku perbaiki, mengapa anggota tim harus mengikutiku, dan ribuan bahkan jutaan pertanyaan lainnya. Timbulnya pertanyaan merupakan hal yang alami, tetapi cara memandang dan menjawab pertanyaan itu yang membedakan setiap orang.

Seseorang yang memiliki kualitas kepemimpinan yang baik akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya akan membuatnya menjadi pemimpin yang lebih baik. Ia tidak hanya bertanya pada diri sendiri, tapi juga bertanya pada para pemimpin yang telah berhasil terlebih dahulu. Ia mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut pada tokoh-tokoh yang mengalami situasi serupa dengannya. Pertanyaan yang timbul menjadi alasan kuat baginya terus belajar dan memperbaiki diri.

Dalam buku Good Leader Ask Great Questions, John C. Maxwell dengan apik menyusun pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di dalam proses kepemimpinan. Tujuh puluh pertanyaan di dalam buku ini merupakan pertanyaan pilihan yang mungkin ditanyakan oleh hampir seluruh pemimpin di dunia.

Ia memulainya dengan pertanyaan pada diri sendiri, pertanyaan pada anggota tim, baru kemudian pertanyaan-pertanyaan seputar masalah yang mungkin terjadi dalam kepemimpinan.

Tantangan seorang pemimpin adalah ketika memimpin orang dengan karakter yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diperlakukan sama. Terkadang cara yang dianggapnya benar ternyata tidak diterima dengan baik oleh anggota timnya. Idealnya seorang pemimpin harus bisa memahami karakter masing-masing anggota timnya dengan baik, sehingga paham pola kepemimpinan seperti apa yang sebaiknya diaplikasikan kepada timnya.

Kemudian juga muncul pertanyaan, apakah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa diaplikasikan oleh semua pemimpin, sesuai dengan kepribadian masing-masing yang unik? Bagaimana menyesuaikan kepemimpinan dengan kepribadian diri, serta kepribadian yang dipimpin.

Pelajaran kepemimpinan terbaik bisa kita temui dalam diri Rasulullah dan para sahabat, khususnya Khulafaur Rasyidin. Kelima tokoh ini dan para sahabat lainnya telah memberikan contoh terbaik untuk kita dalam kepemimpinan. Apakah Anda seorang pemimpin yang penyayang, keras hati, lemah lembut, bersemangat, atau seorang peragu, semua ada contohnya dari orang-orang terbaik yang pernah ada.

Pertanyaannya, apakah kita mau membaca (iqra) dan belajar darinya? Atau kita disilaukan oleh contoh yang tidak lebih baik dari contoh di atas?